ARTIKEL, CATATAN SOSIOLOGI, REVIEW BACAAN, REVIEW ANIME DAN ONLINE T-SHIRT AMATERASU

LINGKUNGAN HIDUP DAN GLOBALISASI

Author Ahsya Ahmad - -



Lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan dan makhluk hidup termasuk manusia dan perilakunya yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain. Lingkungan hidup adalah keseluruhan keadaan luar yang melingkungi dan mempengaruhi eksistensi suatu organisme atau suatu masyarakat hayati. Secara ringkas dapat kita katakan bahwa lingkungan hidup adalah habitat atau tempat hidup makhluk hidup.


Lingkungan, dimana manusia hidup, memberikan kekayaan yang melimpah untuk menunjang kehidupan manusia. Sejauh untuk memenuhi kebutuhan pokoknya, keberadaan alam senantiasa tetap terjaga kelestariannya. Namun seiring munculnya teknologi yang mengakibatkan arus globalisasi, corak kapitalistik manusia semakin besar. Kebutuhan yang mementingkan akumulasi kekayaan dengan ditopang dengan teknologi mengakibatkan terjadinya eksploitasi terhadap alam. Di sinilah persoalan yang membawa pada perdebatan diantara pihak yang pro dan kontra.

Kalangan ‘environmentalis’ merupakan kalangan yang kontra terhadap globalisasi. Kalangan ini melihat bahwa kerusakan lingkungan hidup dan ketergantungan stabilitas ekosistem dipicu oleh globalisasi. Globalisasi telah melahirkan eksploitasi besar-besaran terhadap alam. Sebaliknya, kalangan pro-globalisasi melihat aspek lain yang positif dari globalisasi. Kalangan ini mengkritik balik pihak environmentalis dengan berargumentasi bahwa globalisasi tidak selamanya dilihat sebagai penyebab kerusakan lingkungan. Justru globalisasi juga meningkatkan peluang dan persaingan ekonomi yang semakin luas yang pada gilirannya dapat dirasakan oleh orang banyak dari belahan dunia yang pada awalnya terpisah-pisah secara jauh. Globalisasi memungkinkan terintegrasinya dunia yang luas.

Terlepas dari perdebatan pro dan kontra tersebut, globalisasi dan lingkungan hidup menjadi tema dan perbincangan menarik. Banyak gerakan civil society baik berskala nasional dan global yang menaruh kepedulian terhadap persoalan ini seperti Walhi (ditingkat nasional) atau Green Peace yang bergerak dan mengkampanyekan isu-isu secara global.

Kata ‘globalisasi’ sendiri muncul pada dekade akhir abad ke-20. Dengan globalisasi, tiap negara dapat dengan mudah berinteraksi, bahkan individu dalam suatu negara dengan individu di negara lain dapat dengan mudah melakukan interaksi, baik dalam hal komunikasi, pertukaran komoditi, pertukaran informasi, dll. Globalisasi di satu sisi memberikan dampak positif dan di sisi lain memberikan dampak negatif. Dan salah satu dampak negatif dari globalisasi adalah berimbas pada masalah lingkungan.

Ada serangkaian proses yang harus dilewati untuk menuju pada tahap perusakkan lingkungan akibat globalisasi,yang pada umumnya terjadi di negara-negara berkembang. Persoalan ini mari diskusikan lebih jauh di bawah ini.

Pertama, mulai ramainya diskursus tentang globalisasi memang berkaitan dengan ekonomi global dan juga politik, terutama soal “hilangnya” batas dunia yang menyebabkan politik tidak lagi terpasung pada nation state saja. Sebagaimana dikatakan Anthony Giddins dalam The Third Way-nya (1999:35) bahwa “…globalisasi bukan hanya, atau bahkan terutama tentang saling ketergantungan ekonomi, tetapi tentang transformasi waktu dan ruang dalam kehidupan kita yang tanpa sekat…”.

Terjadi perbedaan kepentingan (yang hakekatnya adalah perbenturan preferensi nilai) antara negara maju dan negara berkembang dalam isu lingkungan hidup. Singkatnya dapat dijelaskan sebagai berikut.

Negara-negara sepakat bahwa lingkungan hidup global terancam atau dalam bahaya. Misalnya bahaya pemanasan global (global warning), robeknya lapisan ozon, hancurnya hutan hujan tropis, ledakan penduduk, kemiskinan, polusi dan seterusnya. Ketika sampai pada tataran aksi, isu-isu ekologisnya itu bertransformasi, sederhananya berubah menjadi nilai kepentingan (intrumenal) yang ditentukan oleh politik dan pasar. Sementara itu negara-negara maju sendiri memperluas ekonomi bisnisnya dan meninggalkan dampak buruk bagi lingkungan.

Selain itu, politik ekonomi global juga merugikan lingkungan hidup. Hal ini setidak-tidaknya bisa dijelaskan dengan beberapa hal. Pertama, persoalan utang luar negeri yang berdampak negatif bagi kondisi lingkungan di negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Carol Wetch (2000:65 dst) mengatakan bahwa lingkungan hidup malah menjadi korban dari lembaga donor seperti IMF (International Moneter Fund). Singkatnya, pinjaman IMF dan upaya penyelamatannya mendorong eksploitasi sumber-sumber daya alam dalam skala besar-besaran.

Kedua, isu lingkungan hidup dipolitisasi sedemikian rupa (bahkan dalam WTO / World Trade Organization) sehingga seolah-olah merupakan keprihatinan serius masyarakat internasional. Padahal isu tersebut sering dijadikan tameng negara-negara maju untuk melindungi kepentingan ekonomi dan bisnis mereka (Sonny Keraf, 2002:229-231).

Aktor-Aktor Politik Lingkungan Hidup Global

Aktor-aktor dimaksud mengacu orang-orang atau lembaga tertentu yang bekerja atau ikut andil mempengaruhi kebijakan-kebijakan politik lingkungan hidup global. Secara umum, ada tiga actor yang berkaitan dengan persoalan atau mempengaruhi kebijakan politik lingkungan global antara lain pemerintahan nasional, global civil society, dan pasar global.

Pertama, pemerintah. Tugas pemerintah tentu mengurus dan melindungi rakyatnya dan seluruh wilayah yang secara administratif termasuk wilayah Negara itu. Pemerintah diharapkan berperan penting dalam menjaga kelestarian lingkungan hidup dan ketersediaannya untuk kepentingan rakyatnya. Namun dalam kondisi terintegrasinya nation state ke dalam relasi global mengakibatkan Negara tidak bisa secara eksklusif dan tertutup dari luar. Di tengah-tengah lingkungan global, pasar global sebagai actor kedua dengan mudah memasuki wilayah untuk mengembangkan dan memperluas kepentingan ekonomi di suatu Negara dengan membuka cabang-cabang di beberapa tempat.

Perusahaan-perusahaan multinasional yang berada di suatu Negara berusaha mempengaruhi kebijakan-kebijakan pemerintah. Hal ini tidak bisa dipungkiri, karena pada kenyataannya tidak jarang pemerintah yang terpilih justru memiliki relasi tertentu dengan perusahaan-perusahaan. Di sinilah perusahaan mempengeruhi Negara dalam hal pembuatan kebijakan termasuk kebijakan perlindungan lingkungan hidup.

Keadaan ini menimbulkan persoalan dan kedaulatan Negara tergerus oleh kepentingan pasar atau korporasi capital. Pemerintah sebagai actor penting dalam pengambilan keputusan terkesan kurang peka terhadap persoalan-persoalan yang ditimbulkan oleh perusahaan. Misalnya, temuan Walhi di Kalimantan terkait “…penggunaan kawasan hutan sebagai lahan eksploitasi pertambangan dan perkebunan tanpa izin pinjam pakai dari Kemenhut, mencapai 2.000 kasus…”

Selain itu, menurut Isal “…dari data-data yang diperoleh, kasus alih fungsi tanpa izin untuk pertambangan, dari 630 izin KP (sekarang IUP), 15 izin PKP2B dan 5 izin KK, hanya 11 unit izin yang mendapat surat persetujuan penggunaan kawasan hutan dari Dirjen Planologi, dan 14 unit surat persetujuan prinsip pinjam pakai kawasan hutan dari Kemenhut, dan 14 unit yang sudah mendapat surat keputusan pinjam pakai kawasan hutan dari Kemenhut…” 

Selain itu, temuan lain menunjukkan bahwa pemerintah daerah banyak yang disinyalir mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang menguntungkan korporasi-korporasi capital dengan mengabaikan hokum. Misalnya berikut penuturan Walhi:

“Surat Keputusan (SK) Bupati Kepulauan Mentawai No. 1188.45-1/2009 tertanggal 8 januari 2009 tentang pemberian izin lokasi pembangunan Perkebunan Kelapa Sawit & Industri CPO PT. Siberut Golden Plantation Pratama (SGPP) yang pada intinya memberikan izin lokasi pada PT. SGPP seluas14.500 Ha di daerah Kecamatan Siberut Utara yang kemudian dirubah dengan SK Bupati Kepulauan Mentawai No: 188.45-60 tahun 2009 yang pada intinyamenambah luas izin lokasi menjadi +20.000 ha yang terletak di Kecamatan Siberut Barat, Kecamatan Siberut Utara dan Kecamatan Siberut Tengah adalah hal yang janggal dan secara hukum menyalahi aturan.”

Relevansi antara politikus dan masalah lingkungan hidup itu sebenarnya juga berlaku untuk Indonesia. Nasib lingkungan hidup kita ditentukan oleh politikus, atau elit politik kita, yang sedang “bersitegang syaraf” untuk mendapatkan kursi di DPR/MPR, menjadi Presiden atau duduk di kursi Kabinet. Tiga penyebabnya :

1. Lingkungan hidup bukan merupakan “umpan politik” yang mujarab untuk menarik minat massa agar mendukung suatu partai, ketimbang misalnya ekonomi atau popularitas tokoh. Kalaupun itu dilakukan, maka partai itu mungkin akan kalah populer dengan yang lainnya. Lain halnya kalau itu di Barat, Jerman misalnya, yang punya “Partai Lingkungan” sehingga tetap ada peminatnya, jelas programnya untuk bidang itu.

2. Para tokoh politik atau caleg kita barangkali saja “tidak punya” visi dan misi lingkungan hidup. Padahal, persoalan lingkungan hidup adalah persoalan “eksistensi” manusia, pembangunan dan kemanfaatan ekonomi. (Baca Berita Suara, 19/6/1999, hal. 10), menjadi sulit terwujud.

3. Input dari masyarakat sendiri menyangkut berbagai persoalan lingkungan hidup tidak ada, karena untuk menjadikannya sebagai suatu aspirasi, mereka butuh seluk-beluk pengetahuan yang memadai tentang lingkungan hidup dengan seluruh persoalannya yang terkait.

Global Warming

Pemanasan Global atau Global Warming adalah merupakan peningkatan termperatur udara di bumi. Pemanasan global ini diakibatkan oleh Efek Rumah Kaca ( Greenhouse Effect ). Gejala dari global warming bahwa suhu rata-rata bumi telah naik 1,4 derajat Fahrenheit (0,8 derajat Celsius) di seluruh dunia sejak tahun 1880, data ini diperoleh hasil penelitian lembaga antariksa Amerika Serikat. Abad ke-20 dua dekade merupakan yang terpanas dalam 400 tahun dan mungkin terpanas selama beberapa milenium, menurut sejumlah studi iklim.

Wilayah Arktik adalah wilayah yang merasakan dampak yang paling jelas. Rata-rata suhu di Alaska, Kanada Barat, dan Rusia Timur meningkat dua kali rata-rata global, menurut laporan lembaga cuaca antar negara di wilayah Arktik. Es di Kutub Utara meleleh dengan cepat, ramalan para ahli wilayah ini akan mengalami musim panas pertama yang benar-benar tanpa es pada tahun 2040 atau lebih cepat. Beruang kutub dan penduduk kutup utara sudah menderita akibat hilangnya es di laut. Gletser dan salju gunung yang mencair dengan cepat, misalnya Montana's Glacier National Park sekarang hanya memiliki 27 gletser, pada tahun 1910 taman nasional ini memiliki 150 gletser.

Efek rumah kaca

Segala sumber energi yang terdapat di Bumi berasal dari Matahari. Sebagian besar energi tersebut dalam bentuk radiasi gelombang pendek, termasuk cahaya tampak. Ketika energi ini mengenai permukaan Bumi, ia berubah dari cahaya menjadi panas yang menghangatkan Bumi. Permukaan Bumi, akan menyerap sebagian panas dan memantulkan kembali sisanya. Sebagian dari panas ini sebagai radiasi inframerah gelombang panjang ke angkasa luar. Namun sebagian panas tetap terperangkap di atmosfer bumi akibat menumpuknya jumlah gas rumah kaca antara lain uap air, karbondioksida, dan metana yang menjadi perangkap gelombang radiasi ini. Gas-gas ini menyerap dan memantulkan kembali radiasi gelombang yang dipancarkan Bumi dan akibatnya panas tersebut akan tersimpan di permukaan Bumi.

Sebenarnya, efek rumah kaca ini sangat dibutuhkan oleh segala makhluk hidup yang ada di bumi, karena tanpanya, planet ini akan menjadi sangat dingin. Sehingga es akan menutupi seluruh permukaan Bumi. Akan tetapi, akibat jumlah gas-gas tersebut telah berlebih di atmosfer, pemanasan global menjadi akibatnya.

Efek Umpan Balik

Efek-efek dari agen penyebab pemanasan global juga dipengaruhi oleh berbagai proses umpan balik yang dihasilkannya. Sebagai contoh adalah pada penguapan air. Pada kasus pemanasan akibat bertambahnya gas-gas rumah kaca seperti CO2, pemanasan pada awalnya akan menyebabkan lebih banyaknya air yang menguap ke atmosfer. Karena uap air sendiri merupakan gas rumah kaca, pemanasan akan terus berlanjut dan menambah jumlah uap air di udara hingga tercapainya suatu keseimbangan konsentrasi uap air. Efek rumah kaca yang dihasilkannya lebih besar bila dibandingkan oleh akibat gas CO2 sendiri. (Walaupun umpan balik ini meningkatkan kandungan air absolut di udara, kelembaban relatif udara hampir konstan atau bahkan agak menurun karena udara menjadi menghangat). Umpan balik ini hanya dapat dibalikkan secara perlahan-lahan karena CO2 memiliki usia yang panjang di atmosfer.

Variasi Matahari

Terdapat hipotesa yang menyatakan bahwa variasi dari Matahari, dengan kemungkinan diperkuat oleh umpan balik dari awan, dapat memberi kontribusi dalam pemanasan saat ini. Perbedaan antara mekanisme ini dengan pemanasan akibat efek rumah kaca adalah meningkatnya aktivitas Matahari akan memanaskan stratosfer sebaliknya efek rumah kaca akan mendinginkan stratosfer. Pendinginan stratosfer bagian bawah paling tidak telah diamati sejak tahun 1960, yang tidak akan terjadi bila aktivitas Matahari menjadi kontributor utama pemanasan saat ini. (Penipisan lapisan ozon juga dapat memberikan efek pendinginan tersebut tetapi penipisan tersebut terjadi mulai akhir tahun 1970-an.) Fenomena variasi Matahari dikombinasikan dengan aktivitas gunung berapi mungkin telah memberikan efek pemanasan dari masa pra-industri hingga tahun 1950, serta efek pendinginan sejak tahun 1950.

Dampak Pemanasan global atau Global warming?

Cuaca

Gunung-gunung es akan mencair dan daratan akan mengecil. Daerah-daerah yang sebelumnya mengalami salju ringan, mungkin tidak akan mengalaminya lagi. Pada pegunungan di daerah subtropis, bagian yang ditutupi salju akan semakin sedikit serta akan lebih cepat mencair. Musim tanam akan lebih panjang di beberapa area. Temperatur pada musim dingin dan malam hari akan cenderung untuk meningkat.

Tinggi Muka Laut

Pemanasan juga akan mencairkan banyak es di kutub, terutama sekitar Greenland, yang lebih memperbanyak volume air di laut. Tinggi muka laut di seluruh dunia telah meningkat 10 – 25 cm (4 – 10 inchi) selama abad ke-20, dan para ilmuan IPCC memprediksi peningkatan lebih lanjut 9 – 88 cm (4 – 35 inchi) pada abad ke-21. Ketika tinggi lautan mencapai muara sungai, banjir akibat air pasang akan meningkat di daratan. Negara-negara kaya akan menghabiskan dana yang sangat besar untuk melindungi daerah pantainya, sedangkan negara-negara miskin mungkin hanya dapat melakukan evakuasi dari daerah pantai.Bahkan sedikit kenaikan tinggi muka laut akan sangat mempengaruhi ekosistem pantai.

Pertanian

Lahan pertanian tropis semi kering di beberapa bagian Afrika mungkin tidak dapat tumbuh. Daerah pertanian gurun yang menggunakan air irigasi dari gunung-gunung yang jauh dapat menderita jika snowpack (kumpulan salju) musim dingin, yang berfungsi sebagai reservoir alami, akan mencair sebelum puncak bulan-bulan masa tanam. Tanaman pangan dan hutan dapat mengalami serangan serangga dan penyakit yang lebih hebat.

Hewan dan tumbuhan

Hewan dan tumbuhan menjadi makhluk hidup yang sulit menghindar dari efek pemanasan ini karena sebagian besar lahan telah dikuasai manusia. Dalam pemanasan global, hewan cenderung untuk bermigrasi ke arah kutub atau ke atas pegunungan. Tumbuhan akan mengubah arah pertumbuhannya, mencari daerah baru karena habitat lamanya menjadi terlalu hangat. Akan tetapi, pembangunan manusia akan menghalangi perpindahan ini. Spesies-spesies yang bermigrasi ke utara atau selatan yang terhalangi oleh kota-kota atau lahan-lahan pertanian mungkin akan mati.

Kesehatan manusia

Di dunia yang hangat, para ilmuan memprediksi bahwa lebih banyak orang yang terkena penyakit atau meninggal karena stress panas. Wabah penyakit yang biasa ditemukan di daerah tropis, seperti penyakit yang diakibatkan nyamuk dan hewan pembawa penyakit lainnya, akan semakin meluas karena mereka dapat berpindah ke daerah yang sebelumnya terlalu dingin bagi mereka. Penyakit-penyakit tropis lainnya juga dapat menyebar seperti malaria, seperti demam dengue, demam kuning, dan encephalitis.

Referensi
Uyungsy, “WALHI Laporkan Penggunaan Lahan kehutanan Tanpa Izin oleh Perusahaan tambang dan Perkebunan”, Wahana Lingkungan Hidup (Walhi), 2012. Artikel diakses pada 20 Nopember 2012 dari : http://pmeindonesia.com/berita-lingkungan/261-walhi-laporkan-penggunaan-lahan-kehutanan-tanpa-izin-oleh-perusahaan-tambang-dan-perkebunan 
Siaran Pers, 29 Kampung di Kepulangan Mentawai Terancam Perkebunan Sawit, artikel diakses pada 20 Nopember 2012 dari : http://www.walhi.or.id/id/download/cat_view/90-dokumen.html?start=40 
Sirajudin Hasbi, Apa itu “Global Warming”? Diakses dari http://green.kompasiana.com/iklim/, tanggal 09 November 2012. 
Definisi: Apa itu Global Warming, http://www.studentmagz.com/2011/03/definisi-apa-itu-global-warming.html, tangaal 09 November 2012. 





loading...
  Diberdayakan oleh Google TerjemahanTerjemahan