ARTIKEL, CATATAN SOSIOLOGI, REVIEW BACAAN, REVIEW ANIME DAN ONLINE T-SHIRT AMATERASU

ARTIKEL MEDIA MASSA DAN KEBERAGAMAN

Author Ahsya Ahmad - -





Media massa di indonesia mempunyai sejarah yang cukup panjang, dari masa penjajahan dimana media memuat konten-konten bernuansa perlawanan-anti penjajahan sampai era pascareformasi  dimana media kini penuh dengan tayangan hiburan. Di era globalisasi seperti sekarang ini, media massa memiliki posisi dan peran yang dominan dalam setiap bidang kehidupan kita baik dalam pendidikan, sosial, politik, ekonomi, maupun budaya. Dengan posisi dan peran yang dominan, media massa mampu memainkan dan mempengaruhi kondisi perpolitikan baik di tingkat lokal, regional, maupun global. Media massa mampu membentuk opini publik.

Melalui media massa pula perusahaan-perusahaan besar menjajakan berbagai produk miliknya, seperti kendaraan bermotor, gadget, sampai produk-produk kecantikan. Hal ini cukup berhasil, media massa mampu memaksa orang untuk berbondong-bondong untuk memakai produk-produk tersebut. Dalam bidang sosial-budaya, media massa telah mengenalkan kita dengan berbagai aliran musik, mode, hingga makanan-makanan cepat saji dan masih banyak yang lainnya. Dalam bidang politik, seperti yang sering kita lihat, banyak para politisi memanfaatkan jasa media untuk berkampanye.

Dengan potensi luar biasa yang dimiliki oleh media massa tersebut, kemudian para pemodal berlomba-lomba untuk menguasai media massa. Satu demi satu media massa dikuasi oleh para pemodal, dari media cetak sampai media elektronik. Hal semacam itu kita lebih mengenalnya dengan istilah konglomerasi media. Konglomerasi media pada dasarnya merupakan usaha pemilik media untuk menerapkan sistem konvergensi media. Sebuah perusahaan media tidak hanya mengandalkan satu channel, satu platform, ataupun satu jenis konten saja. Sebuah perusahaan media tidak akan mampu bertahan selamanya dengan hanya mengandalkan penerbitan satu jenis media, baik itu koran, televisi, maupun lainnya. Oleh karenanya, untuk meraih audiens yang maksimum dibutuhkan kesadaran media untuk menyajikan konten-konten yang multi-channel, multi-platform, serta multi-media.

Akibat dari adanya konglomerasi media, secara tidak langsung media memiliki fungsi ganda dari fungsi sebenarnya. Dengan kata lain, media tidak lagi seutuhnya berfungsi sebagai penyampai informasi, namun media menjadi alat dari pemilik modal itu sendiri. Satu sisi media menyajikan berbagai informasi terkini, di sisi lain media turut aktif mengiklankan berbagai macam produk serta program tertentu dengan tujuan promosi bisnis atau kepentingan politik dari pemilik modal.

Konglomerasi Media Massa dan Keberagaman di Indonesia
Pada satu sisi, konglomerasi media tersebut menguntungkan konsumen karena dapat menikmati konten media yang lebih beragam dalam hal channel maupun platform. Akan tetapi di sisi lain, dikhawatirkan konglomerasi media akan mencapai satu titik dimana unsur  keberagaman konten yang tersebar di hadapan publik menjadi tidak ada. Hal ini bisa saja terjadi, karena dengan kepemilikan tunggal atas beberapa media massa akan menyebabkan konten serta nilai-nilai yang terkandung di dalamnya menjadi seragam. Apalagi sang pemilik media merupakan salah satu dari sekian banyak politisi yang saling bersaing dalam menduduki kursi pemerintahan. Untuk mencapai hal tersebut, maka tak jarang mereka memanfaatkan media yang mereka kuasai.

Konglomerasi media massa akan berlawanan serta sangat mengganggu kemajemukan Indonesia, dimana indonesia memiliki tingkat keberagaman sangat tinggi. Robert McChesney, penulis buku “Rich Media, Poor Democracy”, menyatakan konglomerasi media -yang selanjutnya dapat menyebabkan monopoli media- akan merugikan negara dengan merusak bangunan demokrasi yang ada, karena masyarakat tidak memiliki banyak pilihan/perspektif atas suatu wacana atau berita. Dengan berlangsungnya monopoli media, pesan yang disampaikan oleh media akan menampilkan konten dalam kemasan ideologis dan kepentingan yang sama. Dengan demikian, demokrasi akan terganggu oleh monopoli opini publik dan agenda setting.

Bahaya dari konglomerasi media diantaranya akan menimbulkan pemusatan bisnis media yang mengarah pada persaingan yang tidak sehat menyangkut konten siaran/pemberitaan pers, sekaligus mendorong pelanggaran kode etik jurnalistik. Tiadanya keberagaman kepemilikan dan keberagaman isi siaran akan berakibat pada penyeragaman opini publik. Penyeragaman opini dan kekuatan bisnis-politik oleh kekuatan media yang terlalu dominan akan mengancam kebebasan pers dan demokratisasi media pada akhirnya.

Tidak setiap informasi yang dimuat dalam sebuah media memenuhi harapan para audiens, bahkan sesekali jauh dari harapan. Terkadang, konten yang disajikan pun tidak proporsional, lebih berpihak pada kepentingan golongan tertentu, ideologi tertentu, agama tertentu. Hal semacam ini bisa menjadi sebuah ancaman bagi masyarakat, tak jarang media menjadi sasaran amuk massa dengan berbagai alasan. Satu sisi media perlu melakukan introspeksi, di sisi lain masyarakat yang tidak bisa menanggapi sebuah berita secara cerdas dan dewasa.

WARTAWAN DAN SEMBILAN ELEMEN JURNALISME

Peran besar wartawan sebagai pengelola informasi tentu sangat berarti bagi masyarakat, begitu pun dengan masyarakat perlu mengawasi, menilai dan bahkan mengkritisi kinerja mereka. Agar apa yang disajikan oleh wartawan melalui media merupakan informasi yang benar, berkualitas dan bermanfaat bagi masyarakat. Untuk memenuhi keseimbangan tersebut, serta bisa berlangsung secara efektif ada sembilan prinsip jurnalisme yang perlu dipahami oleh publik dan wajib diterapkan oleh wartawan dan media.

Bill Kovach dan Tom Rosenstiel merupakan perumus sembilan elemen jurnalisme. Kesimpulan sembilan jurnalisme dicetuskan setelah mengadakan banyak diskusi dan wawancara yang melibatkan 1.200 wartawan dalam periode tiga tahun. Sembilan elemen tersebut yaitu; kebenaran, loyalitas pada masyarakat, disiplin dalam verifikasi, independensi, kontrol sosial-penyambung lidah masyarakat, forum publik, relevansi, menyajikan berita secara proporsional, tanggung jawab sosial.

Pelaksanaan sembilan elemen jurnalisme secara berkelanjutan dan bertanggung jawab, yang membedakan wartawan dengan juru penerang atau propaganda. Meski setiap orang bebas untuk berpendapat dan berekspresi, menuangkan aspirasinya lewat suatu media, baik berisi informasi penting maupun sebuah propaganda. Tapi dengan sembilan elemen jurnalisme tersebutlah yang membedakan seorang wartawan dengan yang lainnya.

Ditambah dengan beragamnya latar belakang etnik, agama, ideologi, atau kelas seorang wartawan, yang bisa dijadikan sebagai modal dalam proses peliputan sebuah berita. Tentunya hal tersebut akan memperkaya sebuah hasil liputan. Seperti apa yang diyakini oleh Kovach dan Rosenstiel, bahwa dengan kondisi redaksi yang heterogen menjadi stimulus bagi proses peliputan yang bermutu secara intelektual yang pada akhirnya akan menghasilkan sebuah hasil liputan yang baik dan bermanfaat bagi masyarakat.

Namun untuk mencapai hal semacam itu tidaklah mudah, sebab seorang wartawan pada umumnya tidak mendapatkan kebebasan untuk menentukan apa yang seharusnya mereka liput. Kondisi redaksi pada umumnya tidak memberikan ruang bagi demokrasi, tapi terkadang musyawarah sesekali dilaksanakan. Tetap saja harus ada sikap otoriter dari atasan, baik dalam pemuatan konten maupun dalam hal deadline suatu berita. Hal tersebut merupakan sebuah tantangan bagi atasan dalam hal ini dewan redaksi dalam memberikan ruang pada wartawannya untuk menyuarakan aspirasinya.

Penulis: Iswahyudi

loading...
  Diberdayakan oleh Google TerjemahanTerjemahan