ARTIKEL, CATATAN SOSIOLOGI, REVIEW BACAAN, REVIEW ANIME DAN ONLINE T-SHIRT AMATERASU

MAKALAH SOSIOLOGI EKONOMI CATATAN SOSIOLOGI

Author Ahsya Ahmad - -




Latar Belakang Masalah

Secara umum, sistem ekonomi terbagi kedalam dua bagian. Pertama, ekonomi yang orientasinya sekedar pemenuhan kebutuhan primer yakni usaha mereka hanya untuk kebutuhan minimal. Ekonomi yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan sederhana (ekonomi minimalis). Kedua, sistem ekonomi yang berorientasi tidak saja untuk pemenuhan kebutuhan yang cukup, tetapi berorientasi kepada pengumpulan kekayaan. 

Untuk lebih mendapat pemahaman perbedaan dua sistem di atas, saya sengaja kutipkan komentar Ritzer mengenai “sirkulasi komoditas” Marx yang dianggap sebagai titik tolak capital.

“Marx mendiskusikan dua tipe sirkulasi komoditas. Sirkulasi bentuk pertama adalah ciri capital, yaitu uang à komoditas à uang (dengan jumlah yang lebih besar) (M1-C-M2). Sedangkan sirkulasi bentuk kedua bukan cirri capital, yaitu komoditas à uang à komoditas (C1-M-C2).”[1]

Nalar ekonominya, seseorang memiliki uang awal sebagai modal (M1) dan mempergunakannya untuk membeli komoditas/barang (C) untuk dijual kembali dengan harapan memperoleh keuntungan atau uang (M2) yang lebih besar. Sedangkan contoh ekonomi yang non-kapital, digambarkan oleh Ritzer dalam kasus “nelayan yang menjual tangkapannya (C1) dan kemudian menggunakan uang (M) untuk membeli roti (C2)”.[2] 

Perkembangan kapitalisme dirangsang oleh munculnya penemuan teknologi sebagai konsekuensi logis dari meningkatnya peran ilmu pengetahuan. Kapitalisme telah menggantikan sistem-sistem ekonomi tradisional yang pernah ada sebelumnya. Bahkan kapitalisme telah merajai kehidupan masyarakat modern.

Namun yang menarik justru kapitalisme tidak semata-mata didorong oleh persoalan kebutuhan materil dan kecerdasan teknologi. Kapitalisme justru dirangsang oleh suatu moral agama yang menekankan kepada kedisiplinan duniawi dan himbauan untuk tidak hidup boros serta menghargai waktu (asketik duniawi).

Salah satu tokoh yang menguraikan hubungan antara keyakinan agama dengan perkembangan kapitalisme dan sebaliknya adalah Weber. Dia menemukan suatu fakta bahwa penganut agama Protestan memiliki prestasi ekonomi yang jauh lebih baik ketimbang orang-orang katholik. Lebih jauh dia menjelaskan bahwa spirit kapitalisme hanya ditemukan di dunia barat tepatnya di dalam masyarakat penganut keyakinan calvinisme. Dalam penelitiannya terhadap beberapa kepercayaan di timur seperti masyarakat penganut agama Hindu di India, dan Konfucianisme di China, tidak ditemukan spirit sebagaimana di dalam masyarakat Protestan.

Temuan Weber ini sekaligus membantah tesis Marx yang terlalu menekankan pada kondisi materiil sebagai akibat perkembangan kapitalisme. Makalah ini berusaha untuk mengeksplorasi sejauhmana kontribusi calvinisme dalam merasangsang perkembangan kapitalisme modern.

Rumusan Masalah

Untuk menjaga agar penjelasan di dalam makalah ini mengalir sistematis, maka tulisan ini berusaha mengarahkan permasalahan secara spesifik kedalam beberapa rumusan masalah.
1. Bagaimana bentuk keyakinan sekte Calvinisme?
2. Bagaimana keyakinan sekte Calvinisme merangsang perkembangan kapitalisme di dunia Barat?

ETIKA PROTESTAN

Giddens menuturkan bahwa Weber mengawali bukunya dengan mengemukakan fakta statistik tentang penjelasan di dalam masyarakat eropa modern bahwa banyak orang-orang protestan memiliki posisi penting dalam ekonomi seperti pemimpin niaga, pemilik modal, buruh terampil tingkat tinggi, dll.[3] Berikut pengakuan Weber:

“Melihat sekilas statistik mengenai jenis pekerjaan di negara manapun di dunia dari suatu komposisi agama yang beraneka ragam, kita akan menemukan frekuensi yang luar biasa tentang suatu kondisi yang telah beberapa kali mendorong diadakannya diskusi yang meluas di media massa dan literatur Katolik dan juga di dalam beberapa kongres Katolik di Jerman, yaitu adanya kenyataan bahwa para pemimpin bisnis dan pemilik modal maupun para karyawan perusahaan yang mempunyai kemampuan (skill) tinggi ataupun para staf terdidik, baik secara teknis maupun komersial ternyata kebanyakan adalah orang Protestan.”[4]

Sebelum menjelaskan korelasi antara protestan dengan semangat kapitalisme, Menurut Ritzer “Weber mengawalinya (The Protestant Ethics-pen.) dengan menelaah dan menolak penjelasan alternatif tentang mengapa kapitalisme tumbuh di Barat pada abad ke-16 dan ke-17”[5] 

Pertama, Weber menolak anggapan bahwa kapitalisme didorong oleh kondisi materiil. Tidak benar bahwa orang-orang yang terpaut dengan kegiatan ekonomi atau pengejaran keuntungan jadi bersikap acuh tak acuh terhadap agama atau bahkan memusuhi agama karena kegiatan mereka tertuju kepada dunia materiil.[6] Menurutnya, sebagaimana dikutip dari Giddens, agama protestan, bukan melonggarkan pengawasan gereja atas kegiatan sehari-hari, justru doktrin protestan menuntut dari para penganutnya bekerja dan disiplin lebih keras daripada penganut agama Katolik.[7] 

Selain itu, Menurut Ritzer, penolakan Weber atas kondisi-kondisi materiil belaka sebagai factor pendorong kapitalisme disebabkan kondisi-kondisi ini sebenarnya sudah matang di masa lalu tetapi tidak menumbuhkan kapitalisme.[8] Weber juga menolak penjelasan psikologis: bahwa perkembangan kapitalisme disebabkan oleh naluri untuk menguasai.[9]

Kedua, Weber kurang sepakat ‘semangat kapitalisme’ diidentikkan begitu saja dengan ‘kerakusan ekonomi’. Kapitalisme merupakan “sistem etika, dan etos, yang memang jadi salah satu pendorong terjadinya kesuksesna ekonomi”[10] Justru “dalam kenyataannya keserakahan itu lebih menjadi ciri khas dari masyarakat pra-kapitalis”[11]

Sekte Calvinisme

Menurut Weber “terdapat empat bentuk dasar Protestantisme asketis, yakni (1) Calvinisme di dalam bentuk yang terdapat di wilayah-wilayah utara dari pengaruhnya di Eropa Barat, khususnya pada abad ke-17; (2) Pietisme; (3) Metodisme; dan (4) sekte-sekte yang tumbuh dari gerakan-gerakan kaum baptis”[12] Menurut Weber bahwa dari beberapa sekte yang disebutkan di atas tidak satupun yang “…secara menyeluruh terpisah dari yang lainnya”.[13]

Dari keempat sekte protestan di atas, Weber lebih banyak mencurahkan pembahasannya kepada sekte Calvinis. Ritzer menyebutkan bahwa salah satu ciri Calvinisme adalah gagasan hanya sejumlah kecil orang terpilih yang memperoleh keselamatan, atau gagasan predestinasi yang dimaksudkan bahwa orang sudah ditakdirkan apakah termasuk golongan orang yang terselamatkan atau terkutuk.[14] 

Menurut Gidden, terdapat tiga ajaran utama yang sangat penting dalam Calvinisme. Pertama, doktrin yang mengajarkan bahwa alam semesta ini diciptakan untuk lebih meningkatkan keagungan Tuhan yang mempunyai arti jika dikaitkan dengan maksud-maksud Tuhan. Kedua, prinsip bahwa maksud-maksud yang maha kuasa berada di luar jangkauan pengertian manusia. Manusia hanya bisa mengetahui butiran-butiran kecil dari kebenaran Tuhan. Ketiga, percaya kepada nasib yang telah ditakdirkan oleh Tuhan; hanya sedikit orang yang terpilih untuk memperoleh kasih sayang abadi.[15] 

Konsekuensi Keyakinan Calvinisme

Doktrin Calvinisme di atas telah membawa para penganut sekte kepada kegalauan atau ketidaktentraman di dalam hatinya. Seluruh kehendak tuhan, menurut keyakinan Tuhan, tidak dapat dipengaruhi oleh pikiran dan tindakan manusia, “setiap orang hanya sendirian saja; tidak seorang pun muncul pendeta ataupun orang awam, yang bisa berhubungan dengan tuhan demi keselamatannya.”[16] 


Lantas bagaimana keyakinan ini merangsang asketik duniawi bagi para penganutnya? Menurut Giddens tidak adanya kepastian siapa yang baik (terpilih) dan yang tidak dipilih diantara para penganut Calvinisme mengakibatkan dua pandangan. 


Pertama, “bahwa individu harus merasa sebagai suatu kewajiban untuk menganggap dirinya sebagai yang terpili; karena keragu-raguan tentang kepastian pemilihan itu merupakan bukti dari kepercayaan yang tidak sempurna”.[17] 

Kedua, “kegiatan duniawi yang sangat mendalam merupakan sarana paling cocok untuk mengembangkan dan mempertahankan keharusan memilih kepercayaan kepada diri sendiri”.[18]

Akhirnya Calvinisme menuntut perlunya kehidupan yang disiplin, teratur, dan bekerja keras karena “jika mereka jeli, mereka dapat menyingkap tanda-tanda keselamatan, yang dapat ditemukan dalam kesuksesan ekonomi. Singkatnya, Calvinis diserukan untuk terlibat dalam aktivitas intens dan duniawi dan menjadi manusia pekerja”.[19]

PENUTUP

Kesimpulan

Calvinisme sebagai salah satu sekte protestan sangat menekankan pada asketik duniawi. Doktrin yang menegaskan bahwa manusia pilihan tuhan abadi hanyalah terdiri orang-orang tertentu yang jumlahnya hanya sedikit dan tidak jelas manusia pilihan itu telah mengakibatkan ketidakpastian yang sangat mendalam. 

Ketidakpastian ini kemudian mengakibatkan munculnya suatu gagasan untuk mendedikasikan diri mereka untuk mencapai cita-cita sebagai manusia pilihan tuhan dengan menumpahkan sepenuhnya pada kehidupan yang teratur, disiplin dan pekerja keras. 

Karena itu, kerja keras atau keterlibatan mereka dalam kegiatan ekonomi tidak hanya didorong oleh kondisi materiil, tetapi karena panggilan suci untuk mencapai penerimaan tuhan.

Kritik dan Saran

Penulis mengakui bahwa makalah ini bagian dari proses belajar. Karena itu, kekeliruan-kekeliruan dalam makalah ini barangkali tak dapat dihindari, yang berasal dari kekurang-jelian atau keterbatasan pengetahuannya. 

Karena itu kritik dan saran baik yang ditujukan secara langsung kepada teknis penulisan dan cara-cara pengutipan atau pada konten tulisannya, sangat diharapkan oleh penulis dengan harapan agar terjadi kemajuan dalam penulisan berikutnya.

DAFTAR PUSTAKA

George Ritzer dan Douglas J. Goodman, Teori Sosiologi, Penerjemah Nurhadi, edisi revisi (Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2009)

Anthony Giddens, Kapitalisme dan Teori Sosial Modern- Suatu Analisis terhadap Karya Tulis Marx, Durkheim dan Max Weber, Penerjemah Soeheba Kramadibrata, (Jakarta: Penerbit Universitas Indonesis, 1986)

Max Weber, Etika Protestan dan Semangat Kapitalisme, Penerjemah Yusup Priyasudiarja, (Yogyakarta: Jejak, 2007)
[1] George Ritzer dan Douglas J. Goodman, Teori Sosiologi, Penerjemah Nurhadi, edisi revisi (Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2009), h. 62
[2] Ibid.
[3] Anthony Giddens, Kapitalisme dan Teori Sosial Modern- Suatu Analisis terhadap Karya Tulis Marx, Durkheim dan Max Weber, Penerjemah Soeheba Kramadibrata, (Jakarta: Penerbit Universitas Indonesis, 1986) h.153
[4] Max Weber, Etika Protestan dan Semangat Kapitalisme, Penerjemah Yusup Priyasudiarja, (Yogyakarta: Jejak, 2007) h. 41
[5] George Ritzer dan Douglas J. Goodman, Teori Sosiologi, h. 161 
[6] Anthony Giddens, Kapitalisme dan Teori Sosial Modern, h.154
[7] Ibid, h. 154
[8] George Ritzer dan Douglas J. Goodman, Teori Sosiologi, h. 161, 
[9] Ibid, h. 161
[10] Ibid, 161
[11] Anthony Giddens, Kapitalisme dan Teori Sosial Modern, h.155
[12] Max Weber, Etika Protestan dan Semangat Kapitalisme. h. 101
[13] Ibid, h. 101. 
Metodisme, yang pertama-tama muncul pada masa abad pertengahan yakni abad ke -18, diantara gereja-gereja Established Inggris, atau dari pandangan para pendirinya, tidaklah dimaksudkan untuk mendirikan gereja baru, tetapi hanya dimaksudkan untuk menciptakan suatu kebangkitan baru dalam hal semangat asketis diantara bentuk-bentuk yang masih kuno. Pietisme pertama-pertama memisah dari gerakan Calvinisme di Inggris, dan khususnya di Belanda. Pietisme masih tetap mempunyai hubungan yang longgar dengan Ortodoks, kemudian terus memisah dengan gradasi yang tidak begitu terasa sampai pada akhir abad ke-17. selengkapnya lihat dalam Max Weber, Etika Protestan dan Semangat kapitalisme,h. 101-104.
[14] George Ritzer dan Douglas J. Goodman, Teori Sosiologi, h. 163
[15] Anthony Giddens, Kapitalisme dan Teori Sosial Modern, h.158
[16] Ibid, 158
[17] Ibid, 159
[18] Ibid, 159
[19] George Ritzer dan Douglas J. Goodman, Teori Sosiologi, h. 163

loading...
  Diberdayakan oleh Google TerjemahanTerjemahan