ARTIKEL, CATATAN SOSIOLOGI, REVIEW BACAAN, REVIEW ANIME DAN ONLINE T-SHIRT AMATERASU

TENTANG TRADISI DAN PESANTREN

Author Ahsya Ahmad - -






Tradisi berasal dari bahasa latin, tradition dan berkata dasar tradere, artinya menyerahkan, meneruskan secara turun temurun. Sedangkan dalam kamus besar bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai adat kebiasaan turun temurun dari nenek moyang yang masih dijalankan masyarakat dan juga penilaian atau anggapan bahwa cara-cara yang telah ada merupakan cara-cara yang dianggap paling baik dan benar. Sementara secara sosiologis tradisi diartikan sebagai nilai-nilai kontinu dari masa lalu yang dipertentangkan dengan modernitas yang penuh perubahan.

Al-Jabiri mengartikan tradisi sebagai sesuatu yang hadir dan menyertai kekinian kita, yang berasal dari masa lalu, baik itu masa lalu kita atau masa lalu orang lain, masa lalu jauh ataupun masa lalu dekat. (Bayu Adrianto, 1997:18). Ada hal yang penting untuk diperhatikan dari definisi diatas. Pertama bahwa tradisi adalah yang menyertai kekinian kita, yang tetap hadir dalam kesadaran dan ketidak sadaran kita. Kehadirannya tidak hanya sekedar sisa-sisa masa lalu, melainkan realitas yang menyertai kekinian, karena sebenarnya jika tindakan kultural berlangsung dan tradisi dimengerti sebagai “a living dialogue grounded common reference to particular creative event”, maka usaha modernisasi sebagai suatu bentuk tindakan kultural yang amat penting juga berlangsung dalam perangkat tradisi yang dinamis (dialogis), sebab tradisi sebenarnya tidak menentang alat kemajuan tetapi justru menjadi alat kemajuan. (M. Khoirul Muqtafa, 2002:39)

Sedangkan Pesantren adalah sebuah wacana yang hidup. Selagi mau memperbincangkan pesantren senantiasa menarik, segar dan aktual. Banyak aspek yang mesti dilalui ketika diskursus tentang pesantren kita gelar. Dari sisi keberadaanya saja pesantren memiliki banyak dimensi terkait. Dalam lilitan multi dimensi tersebut menariknya pesantren sangat percaya diri dan penuh pertahanan diri dalam menghadapi tantangan diluar dirinya, karena itu hingga sekarang orang kesulitan mencari sebuah definisi yang tepat untuk pesantren. Pesantren kelihatan berpola seragam, tetapi beragam tampak konservatif namun diam-diam atau terang-terangan mengubah diri dan mengikuti denyut perubahan zamannya. Ambisi merumuskan entitas pesantren secara tunggal, apalagi mencoba memaksakan suatu konsep tertentu untuk pesantren, tampaknya tidak mungkin berhasil.

Pesantren memang eksklusif dan unik dalam berbagai perspektifnya pesantren selalu menunjukkan wajah ambidexterous, yakni yang cukup menggunakan dwi arti untuk kondisi-kondisi tertentu dengan sama baiknya. Setiap orang mengenal bahwa pesantren merupakan lembaga pendidikan klasik. Akan tetapi melalui kebanggaan tradisionalitasnya tidak bisa dipungkiri, pesantren justru semakin survive dan bahkan dianggap sebagai alternative dalam glamoritas dan hegemoni modernisme yang pada saat bersamaan mengagendakan tradisi sebagai masalah.

Persoalan tradisi dilingkungan pesantren merupakan suatu yang akan terus ada dan akan selalu muncul ditengah perubahan yang ada, dan telah kita saksikan bahwa pesantren masih tetap konsisten dalam mempertahankan tradisi yang bagi sebagian orang terasa kurang pas dalam menjawab persoalan-persoalan akibat modernitas ilmu pengetahuan dan kemajuan teknologi.
Berkaitan dengan tradisi, pesantren sebagai bagian dari praktek sistem pendidikan di Indonesia memiliki tradisi pendidikan yang pada awalnya tidak terkooptasi oleh negara. Praktek sistem pendidikan pesantren ini menjadi perhatian berbagai kalangan. Hal ini menunjukkan bahwa pesantren memiliki arti yang problematik bagi proses perubahan sosial budaya di Indonesia.

Kandungan problematik yang seringkali terjadi pusat perhatian adalah menjadi sebuah keharusan pesantren sebagai lembaga pendidikan keagamaan berhadapan dengan proses modernisasi. Dewasa ini nilai-nilai tradisi Islam salalu bergesekan dengan modernisasi pendidikan yakni proses penyebarluasan dan pemerataan kesempatan bagi anak usia sekolah untuk menempuh pendidikan modern yang bertumpu pada nilai-nilai barat yang sekuler.

Dikalangan pesantren pergesekan itu dikhawatirkan semakin mengancam eksistensi pesantren. Kekhawatiran itu antara lain terjadi ketika pemerintah menjalankan program SD inpres sejak tahun 1973, yaitu program yang bertujuan untuk memperluas kesempatan belajar bagi anak-anak yang berusia sekolah untuk memasuki sekolah dasar (Isparjadi, 1976:76-83). Terutama di daerah pedesaan yang penduduknya berpenghasilan rendah, alasan dari kekhawatiran tersebut adalah karena sekolah umum resmi pemerintah memberikan pendidikan yang dirasakan oleh masyarakat luas dan lebih sesuai dengan perkembangan masyarakat dan kebutuhan untuk mencari pekerjaan. Selain itu sekolah-sekolah pemerintah memiliki sarana dan prasaran yang lebih lengkap serta guru-guru terpilih yang lebih baik. (M. Dawam Raharjo, 1993:77).

Sementara bagi pesantren sendiri sebagai lembaga pendidikan yang mapan keberadaanya hanya mampu menawarkan kitab kuning serta beberapa tradisi lain dalam sistem pendidikannya serta tanpa adanya pemberian legalitas apapun kepada santri yang telah selesai menempuh pada jalur pendidikan pesantren. Spesifikasi pesantren pada pengajaran ilmu-ilmu agama membuat ilmu-ilmu lain yang berkaitan dengan teknologi tidak dipungkiri oleh pesantren. Padahal, seiring perubahan yang ada tidak hanya ilmu agama yang dibutuhkan oleh pasar akan tetapi juga ilmu-ilmu yang bersifat umum.

Masa depan pesantren sendiri dihadapkan pada satu pilihan yang membuat pesantren berada di persimpangan jalan yaitu, antara meneruskan peranan yang telah dilakukannya dalam masa lalu, pesantren sebagai lembaga moral, keagamaan atau menempuh jalan menyesuaikan diri dengan perubahan yang ada.

Dalam hal ini pesantren dihadapkan pada dua tuntutan untuk menghadapi situasi zaman modern yaitu, bagaimana pesantren menyuguhkan kembali pesan moral yang diembannya kepada masyarakat sehingga tetap relevan dan mempunyai daya tarik Tanpa relevansi dan daya tarik tersebut kemampuan dan keampuhan serta efektifitas pesantren sulit dijadikan harapan.

Untuk itu dalam rangka mempertahankan eksistensinya ditengah perubahan yang terus bergulir, pesantren berusaha untuk berdialog dengan perubahan yang ada. Dialog tersebut diwujudkan pesantren dalam usahanya mengkombinasikan antara perubahan dan tradisi yang selama ini dimiliki oleh pesantren. Dalam pengkombinasian itu sendiri tentunya akan dihasilkan sesuatu yang baru sehingga keberadaan pesantren setelah melakukan pengkombinasian tersebut serta keberadaan tradisi yang selama ini telah mapan patut dipertanyakan kembali.

REFERENSI:
Bayu Adrianto, 1997:18
M. Khoirul Muqtafa, 2002:39
M. Dawam Raharjo, 1993:77
sparjadi, 1976:76-83

loading...
  Diberdayakan oleh Google TerjemahanTerjemahan